oleh

Rumah Sebaya Helat Rapat Gabungan Menuju Hari HIV/Aids Sedunia

TENTANGBEKASI.COM – Dalam rangka mempersiapkan Hari Aids Sedunia, Yayasan Rumah sebaya helat rapat gabungan dengan beberapa elemen yang berada di Kota Bekasi. Rapat gabungan yang dihelat di Drop in Center Rumah Sebaya, Jalan Nakula IX, Kayuringinjaya, Kota Bekasi, Sabtu (30/06/2018) ini dihadiri oleh Komunitas Sastra Kalimalang, BEM Fikom Universitas Bhayangkara, Sekolah Pinggir Kali, Bahasa Aliza, Bengkel Seni Citra Widya Edukasi, Karang Taruna Medansatria, dan aktivis Narkoba

Ingin memberikan pemahaman yang lebih inovatif mengenai HIV/Aids, serta bahaya penyalahgunaan Narkoba Rumah Sebaya mengusung program kampanye budaya dalam mensosialisasikan bahaya HIV/Aids.

Kampanye budaya ini akan dilaksanakan di sekolah-sekolah dengan sasaran siswa-siswi sekolah tingkat SMA.

“Selama ini penyuluhan hanya duduk, diam dan dengar. Kami melibatkan civitas kampus, agar bergerak di bawah dan tergerak menjadi seorang penyuluh. Mahasiswa dilibatkan, diharapkan mereka mampu menjadi spirit tersendiri bagi tim dan bagi yang menerima informasi,” beber Darmawan, Ketua umum Yayasan Rumah Sebaya.

Menuju Hari HIV/Aids Sedunia sekaligus merangkum kegelisahan Rumah Sebaya terhadap belum optimalnya perhatian pemerintah terhadap Orang Dengan HIV/aids (ODHA).

“Selama ini Rumah Sebaya berjuang dan bergerak terus tanpa adanya dukungan dari donor, minimnya bantuan dari pemerintah tidak menyurutkan Rumah Sebaya untuk tetap terus berjuang memotivasi ODHA agar tetap sehat. Kita punya Komisi Penanggulangan  Aids (KPA) Kota Bekasi tetapi tidak berfungsi sesuai dengan baik sebagai lembaga koordinasi. Padahal, KPA itu pemimpinnya langsung oleh Wali Kota,” jelas laki-laki yang akrab disapa Babeh ini.

Yayasan Rumah Sebaya yang saat ini memiliki 21 orang dalam struktur organisasinya, telah membina 700-an ODHA yang ada di Kota Bekasi.

“Ada sekitar 4.000-an ODHA di Kota Bekasi. Dan, semua masih perlu dibina. Soal bagaimana mereka bersikap di masyarakat. Bagaimana menjaga daya tahan tubuhnya. Informasi-informasi kesehatan juga mesti diberikan. Ini kerja kita bersama. Bukan hanya kerja saya, Rumah Sebaya, atau satu orang saja. Kita mesti bekerja bersama,” tutur laki-laki yang sudah belasan tahun menjadi aktivis HIV/Aids ini.

Menduduki predikat jumlah ODHA terbanyak kedua se-Jabar setelah Bandung, Kota Bekasi idealnya memaksimalkan fungsi KPA sebagai lembaga pemerintah yang secara langsung menangani ODHA di Kota Bekasi.

“Setelah BNK ditutup di akhir tahun 2014, namun tidak difungsikannya BNN di Kota Bekasi, maka praktis saat ini tidak ada lembaga pemerintah yang menangani  langsung antara pemerintah dengan ODHA  dan korban penyalahgunaan Narkoba di Kota Bekasi,” tambahnya.

(ayu/tb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed