oleh

Pencemar Kali Bekasi Diduga Berasal dari Bogor

TENTANGBEKASI.COM – Forum Jurnalis Bekasi (Forjas) helat Diskusi Publik dengan mengusung tema “MEMBACA PROBLEMATIKA KOTA BEKASI DAN WAJAH PERS HARI INI”, di RM Marga Jaya, Jalan Kemakmuran No. 39, Marga Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Kamis (27/09/2019). Tema itu, melihat kondisi Kali Bekasi yang dinilai memprihatinkan dan diduga tidak ada tindakan tegas dari pihak terkait untuk menanggulangi pencemaran di Kali Alam tersebut.

Dalam diskusi itu, turut hadir Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, Ketua Komisi I DPRD Kota Bekasi, Choiruman J. Putro, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Jumhana Lutfi yang diwakili Kabid Pencegahan dan Pencemaran DLH, Sugiono, Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas, Puarman dan Pegiat Pers/ Manajer Program Radio Dakta, Dhany Wahab.

Menanggapi perihal itu, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono mengatakan, penanggulangan Kali Bekasi yang selalu tercemar tiap tahunnya harus ada upaya percepatan dari KP2C dan teman-teman jurnalis. Karena, bila hanya Pemerintah kelestarian Sungai atau Kali tidak akan tercipta.

“Harus ada restorasi dan sedimentasinya luar biasa (di Kali Bekasi). Kita coba dan berbagi tugas, bagaimana kota, kabupaten dan pusat untuk menangani Kali Bekasi. Karena tidak bisa kita sendiri,” ungkap Tri sambil tersenyum didepan peserta diskusi.

Ditempat sama, Kabid Pencegahan dan Pencemaran DLH Kota Bekasi, Sugiono menuturkan, bahwa Kali Bekasi memang sudah tercemar dan pihaknya tidak tinggal diam. Kata Sugiyono, pihaknya sedang konsen tentang Kota Bekasi. Karena penyebab pencemaran di Kali Bekasi diduga dari luar Kota Bekasi, apalagi Kali Bekasi adalah satu kesatuan dari Kali Cileungsi dan Cikeas yang hilirnya itu di Kota dan Kabupaten Bekasi.

Diakuinya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dalam hal ini DLH sudah melakukan tindakan tegas bagi perusahaan atau industri yang terbukti mencemari Kali Bekasi dengan menindak empat perusahaan. Namun, itu semua tidaklah cukup, karena bila di hulunya masih membuang limbah berbahaya dengan sembarang, akan menjadi percuma tindakan tegas yang dilakukan. Ini, tambah dia, perlu peran yang tegas juga dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor untuk menindak perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Kandungan konsentrat lebih banyak, kita menduga (dari industri) garmen, laundry dan sejenisnya,” tukasnya.

Sedangkan Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman mengapresiasi apa yang sudah dilakukan DLH Kota Bekasi dibandingkan DLH Kabupaten Bogor. Menurutnya, respon yang diberikan DLH Kota Bekasi patut di acungi jempol karena ingin menindaklanjuti laporan dari pihaknya atas pencemaran di Kali Bekasi.

“Sedangkan DLH Kabupaten Bogor belum ada respon mengenai itu, padahal kalau kita telusuri, pencemaran yang parah itu dari Kali Cileungsi,” bebernya sambil menunjukan foto-foto melalui mesin proyektor.

Lebih parah lagi, sambung Puarman, banyaknya ikan sapu-sapu yang mati disepanjang Kali Bekasi membuat pihaknya khawatir. Sebab, ikan sapu-sapu terkenal sebagai ikan yang bandel dan tidak mudah mati. Ini menandakan tingkat pencemaran di Kali Bekasi sudah sangat parah, dan Pemerintah Daerah serta Pemerintah Pusat harus ikut serta dalam menanggulanginya.

(ayi/tb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed