oleh

Menyigi Kota Bekasi dengan Mata Hati

TENTANGBEKASI.COM – Tulisan ini saya buat di salah satu sudut Kota Bekasi, ketika matahari menghangati mata hati dengan kebijakannya yang paling bestari.

Maka, sekali ini, saya ingin menyigi Kota Bekasi dengan mata hati —bukan lagi mata lahir yang kerap menatap nyinyir.

Jadi, ini adalah bahasa rasa. Bukan kata-kata data yang seringkali sarat rekayasa. Bukan pula kemasan statistik pembungkus kritik.

Alkisah, nasib Kota Bekasi ini awalnya mirip Faradilla Sandy dalam film jadul Ratapan Anak Tiri. Ia ibarat wajah sekaligus (maaf) pantat Jawa Barat, tergantung dari sisi mana kita menatap.

Bila disigi dari DKI Jakarta, Kota Bekasi itu menjadi siluet dari wajah Jawa Barat. Kalau diteropong dari Kota Bandung, maka ia menjadi “knalpot”-nya Jawa Barat.

Begitulah nasibnya sebagai penyangga di tapal batas dua provinsi terdepan milik Indonesia.

Segambar peta, ia mirip Pulau Sulawesi. Tak luas, memang. Tapi, ibarat Faradilla Sandy dalam Ratapan Anak Tiri tadi, ia (akhirnya) mampu berdiri, mekar, dan berkembang sendiri secara mandiri.

Usia Kota Bekasi masih amat remaja. Ia baru menjelma menjadi kota administrasi di awal Reformasi 1998.

Berganti kepala daerah baru lima kali. Semuanya anak negeri. Dan, di dua periode terkini, ia dipimpin anak asli keturunan Betawi.

Dulu, Kota Bekasi jadi target bully. Dicemooh warga Ibukota Jakarta, dan diolok-olok di dunia maya.

Katanya, Bekasi bukan planet Bumi. Katanya, harus punya paspor untuk sampai di sana. Katanya pula, mesti naik roket untuk bisa sampai ke wilayahnya.

Katanya, jika hawa mulai terasa panas dan macet, itu berarti Anda sudah berada di Kota Bekasi. Katanya, jika kenyamanan tidur mulai terusik jalan rusak dan berlubang, itulah tanda-tanda Anda sudah ada di Kota Bekasi.

Akhirnya, semua “katanya” itu berubah menjadi “ternyata”.

Ternyata, Kota Bekasi sudah maju. Ternyata, kotanya sudah tak sekolot dulu. Ternyata, kondisinya kini lebih hebat. Pembangunannya tumbuh pesat. Meski warganya kian padat merayap.

Kini, setiap sudut kotanya sudah banyak cahaya. Ditingkahi pedestrian dan taman yang tertata. Pertumbuhan kotanya benar-benar nyata.

Seiring perjalanan waktu, Kota Bekasi layaknya negara maju. Bangunan-bangunan vertikal mulai bermunculan. Pusat perbelanjaan dan pelayanan masyarakat kian memudahkan.

Akses jalan tak lagi harus berebutan. Moda transportasi massalnya kian berwarna, memanjakan hasrat jalan-jalan.

Kota Patriot yang menyimpan banyak sejarah ini, sekarang berubah menjadi kota penyangga penuh cahaya.

Sebentar, rasanya ada seteguk kopi yang harus membasahi dulu lorong pernafasan saya.

Ya, saya memang tak lahir di kota ini. Tak ada pula darah Bekasi dalam diri.

Tapi, ada rasa jumawa bisa besar dan menapakkan kaki, hingga mengais rejeki, dari kota yang begitu ramah dan baik hati ini.

Layaknya miniatur Indonesia, semua suku, bahasa, adat, budaya, bahkan agama, menyatu di sini.

Kini, kota remaja ini mulai beranjak dewasa. Kian hari, kian berwarna. Bukan mustahil, seiring putaran masa, dua-tiga-sepuluh tahun di muka ia bakal perform sebagai kota panutan.

Tak terasa, matahari Kota Bekasi mulai berganti temaram senja. Jari jemari mulai lelah menerjemahkan mata hati yang tak henti menyigi.

Saya harus berhenti sejenak, seraya terus berharap, kota kecil ini akan menjadi rumah bagi siapapun yang ingin singgah, dan menjadi tempat yang tepat untuk beristirahat.

Cag! Tutup lawang sigotaka…

Oleh : MEGA PUSPITA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed