oleh

Kang Emil : Quick Response Diharapkan Dapat Diterapkan di Wilayah Jabar

TENTANGBEKASI.COM – Demi memaksimalkan pelayanan terhadap masyarakat di wilayah Jawa Barat (Jabar), Gubernur Jabar, Ridwan Kamil meminta semua daerah yang ada di Jabar untuk mengaplikasikan program Quick Response (cepat tanggap). Hal itu disampaikan pria yang karib disapa Kang Emil ketika Kopdar-GGWP di Hotel Horison Bekasi, belum lama ini.

Dalam kegiatan itu, hadir Bupati Karawang, Plt Bupati Bekasi, dan Wakil Bupati Purwakarta. Kang Emil menuturkan, bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar sudah mulai menerapkan program itu, jadi ia berharap respon positif dapat disambut tiap daerah yang ada di Jabar untuk ikut berperan untuk lebih memaksimalkan pelayanan. Dan Quick Response adalah program untuk kemanusiaan.

“Provinsi sudah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah, Kabupaten Sumedang sudah. Saya minta sebulan sudah terbentuk. Sederhana, yaitu pengaduan warga khusus untuk kemanusiaan. Pesen saya serahkan ke staf yang milenial, jadi ada hp dan instagramnya,” pinta Kang Emil.

Dasar dijalankannya Quick Response, kata dia, karena banyaknya aduan masyarakat yang sampai ketelinganya. Terlebih aduan itu mengenai kemanusiaan yang dinilainya perlu ditindaklanjuti dengan segera.

Jika daerah di Jabar, baik itu Kota dan Kabupaten menerapkan program ini, menurutnya dapat meringankan beban Pemprov untuk mengatasinya. Jadi, lanjut dia, masyarakat yang memiliki masalah kemanusiaan tidak perlu repot-repot ke Pemprov, tinggal ke daerahnya masing-masing.

“Saya biasanya bilang ke ajudan, beresin! Tapi lama-lama jumlahnya makin banyak. Kalau semua (diemban) Provinsi juga repot kan. Maka dari itu semua harus terlibat agar meringankan beban itu,” tuturnya.

Bukan hanya Quick Response, di awal tahun 2019 mendatang, pria yang ingin menyulap Kalimalang Bekasi ini juga akan meluncurkan paket reformasi Smart City. Reformasi itu, kata dia, dapat menghemat anggaran dan tidak ada celah bagi oknum untuk bermain anggaran.

“E-Budgeting ikutlah arahan Provinsi. Saya menghemat Rp 1 Triliyun gara-gara e-budgeting saya ini canggih. Bisa menemukan anggaran yang dimark up dan tidak perlu. Ini pengalaman saya satu contoh,” jelas Kang Emil.

(eka/tb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed